“ Nihan ta silakramaning aguron-guron,haywa tan bhakti ring guru,haywa himaniman, haywa tan sakti ring sang guru,haywa tan sadu tuhwa,haywa nikelana sapatuduhing sang guru,haywa ngideki wayangan sang guru,haywa anglungguhi palungguhaning sang guru”(Teks Silakrama).
Artinya: inilah tata tertib berguru(menuntut ilmu),janganlah tidak bakti kepada guru,jangan mencaci maki guru, jangan segan kepada guru,jangan tidak tulus,jangan menentang perintah guru, jangan menginjak bayangan guru dan jangan menduduki tempat duduk guru.
Teks di atas hanya sebagian dari banyak tata cara kita bersikap kepada seorang guru di dalam menuntut ilmu,yang tersurat dalam buku “Sila Krama”. Selalu hormat dan bakti terhadap guru,selalu menuruti perintah guru dan menjauhi larangannya disebut “Guru Susrusa”.
Ada 3 jalan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan di dunia ini,yang disebut dengan istilah “sastratah,gurutah dan swatah”. Sastratah adalah cara memperoleh ilmu pengetahuan dengan atau lewat membaca buku-buku,tulisan-tulisan. Gurutah adalah cara memperoleh ilmu pengetahuan dengan jalan berguru kepada seorang guru. Sedangkan swatah adalah cara memperoleh ilmu pengetahuan dengan cara analisa sendiri. Sering ilmu pengetahuan yang diperoleh lewat membaca buku ataupun lewat wejangan seorang guru,perlu dianalisa atau dipertimbangkan dalam diri masing-masing. Inilah disebut “atmanastuti”.
Dalam sila kramaning aguron-guron, dengan jelas diatur hubungan antara seorang sisya(murid) dengan gurunya. Di samping disebutkan dalam teks di atas,seorang sisya tidak boleh merebahkan diri di hadapan guru, duduk berhadap-hadapan dengan guru, tidak diizinkan memutus pembicaraan guru, harus menuruti apa yang diucapkan guru. Bila melihat guru berjalan atau berdiri selalu mengikuti dari belakang. Bila berbicara dengan guru, tidak boleh menatap langsung wajah guru,tidak boleh menoleh ke sebelah dan kebelakang. Selalu tekun menerima ucapan-ucapan guru dan selalu menyahut dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan hati(manohara).
Guru adalah wakil Tuhan di dunia di dalam membentuk karakter seorang murid. Lewat ilmu pengetahuan yang diajarkan,seorang murid dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak mengerti menjadi mengerti. Dari tidak paham menjadi paham. Inilah peran guru sangat mulya di dalam mengajarkan “guna widya” ,ilmu pengetahuan yang berguna kepada muridnya. Sehingga dalam sastra Hindu disebutkan “Yan ana wwang pawehaken jnana,tan pa ingan-ingan palanya”. Artinya :bila ada orang yang memberikan pengetahuan(jnana),maka imbalannya tidak terbilang. Dan orang yang mampu memberikan pengetahuan yang berguna itu adalah seorang guru. Oleh karenanya tidak ada alasan bagi seorang murid untuk tidak menghormati gurunya.
Ada 4 jalan untuk meresapi ajaran(ilmu pengetahuan) yang telah diberikan oleh guru,yaitu harus percaya dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan guru. Kedua tekun mempelajari ilmu yang telah diberikan. Ketiga selalu mengingat,jangan mudah melupakan ilmu yang telah diberikan. Dan terakhir harus mampu memilah-milah dalam hati pengetahuan yang tengah dipelajari.
Bila tidak tumbuh kepercayaan akan ilmu yang diajarkan guru,maka kita tidak akan serius mempelajarinya. Ketidakseriusan belajar,tidak akan pernah menemukan inti,hakekat dan manfaat dari ilmu pengetahuan yang dipelajari. Keadaan ini menimbulkan rasa tidak percaya,baik kepada ilmu yang dipelajari maupun terhadap guru yang memberikan ilmu itu sendiri. Jika seorang murid sudah tidak percaya akan gurunya,maka bagaimana ia bisa berbakti terhadap guru itu. Jadi modal pertama memperoleh ilmu pengetahuan adalah percaya dahulu terhadap ilmu yang dajarkan oleh guru. Mempercayai ilmu yang diberikan mencerminkan rasa hormat danbakti murid terhadap guru.
Setelah kita percaya akan kebenaran ilmu yang diajarkan guru,maka hendaknya kita dengan tekun mempelajarinya. Ikuti petuah,hal-hal yang harus dilakukan,hal-hal yang harus dihindari selama proses belajar. Giat melaksanakan segala petunjuk guru. Dengan demikian maka ilmu yang dipelajari akan bisa dikuasai,dimengerti. Ini juga salah satu bentuk bakti kita terhadap guru.
Langkah selanjutnya adalah meresapi apa yang telah kita percayai sebagai kebenaran dan telah pula denga tekun dipelajari. Proses meresapi adalah proses memasukkan ajaran itu ke dalam hati. Ia akan muncul dalam gerak laku, bertutur kata maupun dalam konsep berfikir. Jadi tidak sekedar menghapal belaka. Prilaku,tutur bahasa yang muncul dari proses berfikir yang selalu dijiwai ilmu pengetahuan(jnana) akan membuat orang santun di dalam pergaulannya dan bakti terhadap gurunya.
Langkah terakhir adalan “wiweka”. Wiweka adalah kemampuan untuk memilah dan memilih antara yang benar dan salah,yang layak dengan yang tidak layak, yang wajar dengan yang tidak wajar dan seterusnya. Seorang murid memiliki kemerdekaan dalam memilih ilmu pengetahuan yang disukai. Inilah yang perlu selalu didiskusikan dengan guru, dengan tetap memperhatikan rasa hormat dan bakti pada guru.
Dengan demikian ilmu itu akan cepat terserap oleh si murid. Murid akan mendapatkan ilmu pengetahuan . Ilmu pengetahuan itu nantinya mampu membantunya dalam mengisi dan mengarungi kehidupan nyata yang semakin menantang ini. Ilmu itu sumbernya dari seorang guru. Maka berbaktilah selalu kepada guru.(Wjs).