Minggu, 17 April 2011

Berbakti Pada Guru


“ Nihan ta silakramaning aguron-guron,haywa tan bhakti ring guru,haywa himaniman, haywa tan sakti ring sang guru,haywa tan sadu tuhwa,haywa nikelana sapatuduhing sang guru,haywa ngideki wayangan sang guru,haywa anglungguhi palungguhaning sang guru”(Teks Silakrama).
Artinya: inilah tata tertib berguru(menuntut ilmu),janganlah tidak bakti kepada guru,jangan mencaci maki guru, jangan segan kepada guru,jangan tidak tulus,jangan menentang perintah guru, jangan menginjak bayangan guru dan jangan menduduki tempat duduk guru.

Teks di atas hanya sebagian dari banyak  tata cara kita bersikap kepada seorang guru di dalam menuntut ilmu,yang tersurat dalam buku “Sila Krama”. Selalu  hormat dan bakti terhadap guru,selalu menuruti perintah guru dan menjauhi larangannya  disebut “Guru Susrusa”.

Ada 3 jalan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan di dunia ini,yang disebut dengan istilah “sastratah,gurutah dan swatah”.  Sastratah  adalah cara memperoleh ilmu pengetahuan dengan atau lewat membaca buku-buku,tulisan-tulisan. Gurutah adalah cara memperoleh ilmu pengetahuan dengan jalan berguru kepada seorang guru. Sedangkan swatah adalah cara memperoleh ilmu pengetahuan dengan cara analisa sendiri. Sering ilmu pengetahuan yang diperoleh lewat membaca buku ataupun lewat wejangan seorang guru,perlu dianalisa atau dipertimbangkan dalam diri masing-masing. Inilah disebut “atmanastuti”.

Dalam sila kramaning aguron-guron,  dengan jelas diatur hubungan antara seorang sisya(murid) dengan gurunya. Di samping disebutkan dalam teks di atas,seorang sisya tidak boleh merebahkan diri di hadapan guru, duduk berhadap-hadapan dengan guru, tidak diizinkan memutus pembicaraan guru, harus menuruti apa yang diucapkan guru. Bila melihat guru berjalan atau berdiri selalu mengikuti dari belakang. Bila berbicara dengan guru, tidak boleh menatap  langsung  wajah guru,tidak boleh menoleh ke sebelah dan kebelakang. Selalu tekun menerima ucapan-ucapan guru dan selalu menyahut dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan hati(manohara).

Guru adalah wakil Tuhan di dunia di dalam membentuk karakter seorang murid. Lewat ilmu pengetahuan yang diajarkan,seorang murid  dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak mengerti menjadi mengerti. Dari tidak paham menjadi paham. Inilah peran guru sangat mulya di dalam mengajarkan “guna widya” ,ilmu pengetahuan yang berguna kepada muridnya. Sehingga dalam sastra Hindu disebutkan “Yan ana wwang pawehaken jnana,tan pa ingan-ingan palanya”. Artinya :bila ada orang yang memberikan  pengetahuan(jnana),maka  imbalannya tidak terbilang. Dan orang yang mampu memberikan pengetahuan yang berguna itu adalah seorang guru. Oleh karenanya tidak ada alasan bagi seorang murid untuk tidak menghormati gurunya.
Ada 4 jalan untuk meresapi ajaran(ilmu pengetahuan) yang telah diberikan oleh guru,yaitu harus percaya dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan guru. Kedua tekun mempelajari ilmu yang telah diberikan. Ketiga selalu mengingat,jangan mudah melupakan ilmu yang telah diberikan. Dan terakhir harus mampu memilah-milah dalam hati pengetahuan yang tengah dipelajari.

Bila tidak tumbuh kepercayaan akan ilmu yang diajarkan guru,maka kita tidak akan serius mempelajarinya. Ketidakseriusan  belajar,tidak akan pernah menemukan inti,hakekat dan manfaat dari ilmu pengetahuan yang dipelajari. Keadaan ini  menimbulkan rasa tidak percaya,baik kepada ilmu yang dipelajari maupun terhadap guru yang memberikan ilmu itu sendiri. Jika seorang murid sudah tidak percaya akan gurunya,maka bagaimana ia bisa berbakti terhadap guru itu. Jadi modal pertama memperoleh ilmu pengetahuan adalah percaya dahulu terhadap ilmu yang dajarkan oleh guru. Mempercayai ilmu yang diberikan mencerminkan rasa hormat danbakti murid terhadap guru.

Setelah kita percaya akan kebenaran ilmu yang diajarkan guru,maka hendaknya kita dengan tekun mempelajarinya. Ikuti petuah,hal-hal yang harus dilakukan,hal-hal yang harus dihindari selama proses belajar.  Giat melaksanakan segala petunjuk guru. Dengan demikian maka ilmu yang dipelajari akan bisa dikuasai,dimengerti. Ini juga salah satu bentuk bakti kita terhadap guru.

Langkah selanjutnya adalah meresapi apa yang telah kita percayai sebagai kebenaran dan telah pula denga tekun dipelajari. Proses meresapi adalah proses memasukkan ajaran itu ke dalam hati. Ia akan muncul dalam gerak laku, bertutur kata maupun dalam konsep berfikir. Jadi tidak sekedar menghapal belaka. Prilaku,tutur bahasa yang muncul dari proses berfikir yang selalu dijiwai ilmu pengetahuan(jnana) akan membuat orang santun di dalam pergaulannya dan bakti terhadap gurunya.

Langkah terakhir adalan “wiweka”.  Wiweka adalah kemampuan untuk memilah dan memilih antara yang benar dan salah,yang layak dengan yang tidak layak, yang wajar dengan yang tidak wajar dan seterusnya.  Seorang murid memiliki kemerdekaan dalam memilih ilmu pengetahuan yang disukai. Inilah yang perlu selalu didiskusikan dengan guru, dengan tetap memperhatikan rasa hormat dan bakti pada guru.
Dengan demikian ilmu itu akan cepat terserap oleh si murid. Murid akan mendapatkan ilmu pengetahuan . Ilmu pengetahuan itu nantinya mampu membantunya dalam mengisi dan  mengarungi kehidupan nyata yang semakin menantang ini.  Ilmu itu sumbernya dari seorang guru. Maka berbaktilah selalu kepada guru.(Wjs).

Ksamawan: Orang yang Penuh Maaf


“Kolila ring swaranya makarupa kinalewihaken/stri makarupa diwyakapatibrata linewihaken/ring sruti dharmasastra guruwaktra kinalewihaken/ring ksamarupa sang parama pandita linewihaken//(Kakawin Nitisastra;II.6)”.   
artinya  : burung murai itu dihargai karena suaranya,wanita itu dipandang tinggi karena kesetiaan dan kehalusan budhinya, dalam semua  ajaran-ajaran ,gurulah  yang paling berharga, dalam hal memaafkanlah ketinggian budhi orang itu dapat dikagumi.

Tidak mudah memaafkan kesalahan orang lain yang ditimpakan kepada diri kita. Di jaman kali ini,orang cendrung bersifat ego sentrik. Keakuannya begitu tinggi,sehingga cendrung memberi nilai terlalu tinggi pada dirinya. Mereka lupa, bahwa di sekitar  dirinya ada diri-diri milik orang lain yang juga perlu mendapatkan nilai,perhatian,penghormatan dan harga yang sama. Kondisi ini sering kali menimbulkan gesekan,friksi di masyarakat,bahkan bisa menimbulkan perkelahian antar individu,dan kerusuhan antar masyarakat.
Cukup lumrah kita dengar adanya perselisihan,perkelahian bahkan sampai pada pembunuhan hanya gara-gara kesalahpahaman. Media cetak,koran,televisi hampir setiap saat menyajikan berita tentang hal itu. Begitu mudahnyakah kita-kita tersulut emosi di jaman kali ini?.

Dalam hidup di masyarakat kebebasan kita ada batasnya. Batas kebebasan kita adalah kebebasan orang lain. Apabila kita menggunakan kebebasan sendiri melampaui kebebasan orang lain, inilah cendrung menimbulkan masalah di masyarakat. Masalah bisa runyam mengarah ke perkelahian. Jika masing-masing individu bisa menghargai kebebasan masing-masing orang dalam masyarakat,maka masyarakat itu akan berjalan dengan aman,nyaman dan damai.

Jika toh dengan jalan itu tetap juga timbul permasalahan-permasalahan,kesalahpahaman atau sejenisnya,maka untuk  meredam semua itu adalah dengan jalan “ksama”(memaafkan).  Ksama  merupakan bagian dari ajaran  “Dasa Yama Brata”;yaitu sepuluh ajaran moral dengan tujuan untuk membina dan mengarahkan prilaku manusia menuju budi pakerti yang luhur dan mulia,sehingga kita bisa hidup berdampingan di masyarakat secara damai dalam mewujudkan tujuan hidup bersama secara sekala maupun niskala. Ksama artinya prilaku yang suka mengampuni atau memaafkan  kesalahan sesama dan yang lainnya untuk mewujudkan tata kehidupan yang damai di masyarakat.

Sastra Hindhu mengingatkan seluruh umatnya  agar jangan membalas dendam. Itu artinya Hindhu mengharamkan umatnya menjadi manusia-manusia pendendam. Agama Hindhu malah menganjurkan pada seluruh umatnya agar menjadi manusia pemaaf(Ksamawan).  Karena sifat pemaaf itu justru menjadi tolok ukur keluhuran budhi seseorang,sebagaimana  kutipan kakawin Nitisastra di atas.

Semua agama mengajarkan umatnya untuk tidak menjadi manusia pendendam. Agama Kristen mengisyaratkan: menyerahkan pipi kanan bila pipi kiri dipukul orang.  Agama Budha mendoktrinkan,bahwa  dendam tidak dapat dihilangkan dengan dendam.  Kemarahan tidak dapat dihilangkan dengan kemarahan,sebagaimana halnya api tidak dapat dipadamkan dengan api. Di Bali, tetua kita telah lama menasehatkan kepada kita,bahwa hendaknya dibalas dengan bunga apabila kita dilempar kotoran. Ini adalah serpihan ajaran moral kepada kita semua,bahwa sifat pendendam itu di samping tidak baik,juga tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan. Dan sifat pemaaf itu adalah sifat yang agung,mulia dan karenanya tentu akan dapat menyelesaikan semua permasalahan.

Paulus,dalam sabdanya mengatakan bahwa membuat kesalahan itu  adalah sudah menjadi sifat manusia,tetapi sifat memaafkan itu adalah sifat yang agung. Oleh karenanya,membalas dendam itu sedapat mungkin dihindari,sedangkan memaafkan kesalahan orang lain harus dipupuk. Ini merupakan vitamin yang menyebabkan langgengnya hubungan di dalam masyarakat.

Penguasapun di dalam menjalankan roda pemerintahan  harus selalu dijiwai sifat-sifat pemaaf. Dalam hal penegakan hukum,pasal-pasal hukumpun hendaknya disusun dengan jiwa rasa pemaaf. Ksama(pemaaf) bukan berarti membiarkan orang berbuat salah,sehingga tatanan khidupan menjadi kacau.  Ajaran ksama justru menekan sekecil mungkin pelanggaran-pelanggaran terjadi dimasyarakat. Ajaran ksama mengharamkan berbuat jahat,curang,iri,dengki dan sejenisnya. Orang yang terlanjur berbuat kesalahan memang harus dihukum,namun hukuman yang dijiwai semangat memaafkan. Hukuman model ini justru akan membuat para penjahat menjadi jera dan segan,untuk selanjutnya tidak mengulangi lagi perbuatan jahatnya.

Sanksi yang manusiawi dan hukuman yang mendidik justru membuat para penjahat kembali ke jalan yang benar. Mereka akan merasa malu,segan  akan kejahatan yang telah diperbuat sehingga mereka berusaha untuk tidak mengulanginya.  Ketimbang sanksi yang dipaksakan. Lebih-lebih menghukum mereka yang tidak bersalah. Ini adalah sangat tidak benar. Mereka yang bersalah wajar mendapatkan sanksi,hukuman, namun sanksi atau hukuman yang dijiwai semangat memaafkan.

Dengan demikian,mereka yang bersalahpun akan dengan kesadarannya meminta maaf pula dan berjanji takkan mengulangi keslahannya dan malah akan berusaha mengikuti  jalan yang benar.
Inilah sesungguhnya spirit dari ajaran ksama itu. Ksama mengajarkan kita untuk saling memaafkan.  Prilaku yang digerakkan oleh jiwa yang dipenuhi rasa maaf akan sekecil mungkin membuat kesalahan terhadap orang lain. Dan kalau toh terjadi kesalahan,tentu diluar rencananya. Dan dengan penuh kesadaran mereka  akan segera minta maaf dengan hati yang tulus. Orang yang dimintai maafpun akan memberi maaf dengan ketulusan hati yang tidak kalah tingginya. Apabila kondisi ini bisa dipertahankan dalam masyarakat,lingkungan,bangsa dan negara,maka kedamaian dan kesentosaan negara itu akan tercipta dengan sendirinya. Oleh karena itu,marilah kita semua,komponen bangsa,baik sebagai rakyat , wakil rakyat maupun sebagai penguasa menjadi  “Ksamawan”; manusia-manusia yang penuh pemaaf. Dengan demikian tujuan negara dalam mewujudkan masyarakat yang adil sejahtra dalam suasana yang penuh kedamaian niscaya akan terwujud.(Wjs).