Selasa, 03 Mei 2011

Memenjarakan Hawa Nafsu


“Tan pa wates tan pa tanggu/kitane sahi nagihin/yaning tan wenten kasidan/sinah dadi sakit hati/ibuk sedih manyengsara/masih tambet manasarin//”.(Pupuh Ginanti: Gaguritan Sucita).
Artinya: tiada batas dan ujungnya,keinginan(napsu) itu selalu menuntut,bila tiada terpenuhi,tentu akan menjadi sakit hati,pikiran sedih terasa sengsara,semua itu juga bersumber dari kebodohan.
Hidup ke dunia fana ini dibekali kebodohan(awidya). Kebodohan bila tidak sering diasah lewat proses belajar akan tetap merupakan kebodohan yang menghambat kehidupan manusia. Kebodohan sumber  kesengsaraan. Orang bodoh amat susah hidupnya. Orang bodoh tidak mampu mengendalikan keinginannya. Keinginan yang tak terkendali akan menyengsarakan hidup manusia. Manusia yang hidup sengsara terasa amat susah dan sering berakhir dengan kematian sia-sia. Ibarat laron yang keluar dari sarang,mengira cahaya lampu bisa membuat bahagia,ternyata hanya pengantar nyawa menuju kematiaannya. Sungguh sangat memilukan.
Oleh karenanya,manusia di dalam hidupnya dituntut terus belajar menimba ilmu(guna widya). Ilmu yang diperoleh ibarat senjata yang mampu membantu hidup manusia. Dengan bekal ilmu pengetahuan,manusia mampu bertahan hidup,bersaing,mencari uang untuk mempertahankan hidupnya. Dengan ilmu pengetahuan pula(jnana),manusia mampu membeda-bedakan antara yang benar dan salah,yang layak dengan tidak layak,yang kemungkinan bisa dijangkau dengan yang tidak mungkin bisa dijangkau. Kemampuan membeda-bedakan itu disebut “wiweka”.
Orang yang memiliki wiweka adalah orang yang berilmu. Tidak mudah membedakan sifat dualisma itu. Hanya orang yang berilmu(jnana) yang dengan mudah membedakan,memilih dan memilah antara yang mungkin terjangkau dengan yang tidak mungkin terjangkau. Kemampuan wiweka itupun diperoleh lewat proses belajar yang tekun dan panjang.
Penghormatan yang setinggi-tingginya penulis letakkan kepada Sang Hyang Aji Saraswati,sumber segala ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Lewat Hari Suci Saraswati,Sabtu Umanis Watugunung,23 April 2011,seyogyanya umat Hindhu merenung sejenak betapa agung peran Sang Hyang Aji Saraswati yang menurunkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan ke dunia ini. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan manusia memiliki wiweka.
Manusia tanpa wiweka tidak mampu membedakan antara yang layak dengan yang tidak layak,yang mungkin bisa dicapai dengan yang tidak mungkin bisa diperoleh. Ketidak mampuan ini sumber penderitaan hidup,yang menghantarkan manusia pada kematian sia-sia.
Kama atau hawa napsu atau indrya,bila tidak dibatasi pergerakannya,ia merupakan sumber kehancuran. Seperti kutipan geguritan di atas,hawa napsu atau indrya itu ibarat kuda liar yang tiada batas dan ujungnya. Ia selalu menuntut  untuk dipuasi. Jika tiada terpuasi ia menyengsarakan hidup manusia. Bila boleh jujur, banyak orang stres,bunuh diri,menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan gara-gara dikejar napsu. Napsu sumber petaka,bila tidak dikendalikan.
Napsu itu perlu,karena napsu adalah energi. Energi penggerak hidup. Ibarat sebuah kereta,napsu adalah kuda. Tapi napsu perlu selalu dikendalikan. Idealnya napsu selalu ada dibawah kendali dan kontrol  fikiran. Fikiran ada di bawah kendali budhi dan budhi hendaknya dikendalikan Sang Hyang Atma.
Memenjarakan hawa napsu,bukan berarti menutup rapat ruang gerak napsu. Sama sekali bukan. Memenjarakan hawa napsu,memberikan batas-batas wajar kepada napsu itu untuk bergerak. Dalam ruang yang diperuntukkan sewajarnya,napsu dipersilakan untuk beraktivitas dan berkreativitas. Napsu harus sadar ,bahwa ia bawahan fikiran. Fikiranpun harus mahfun,bahwa dia selalu dikontrol budhi. Proses kerja antara budhi,fikiran dan napsu  secara wajar inilah akan membuat hidup manusia menjadi wajar. Wajar  dalam artian tidak diperbudak napsu,selalu dikejar-kejar keinginan,sehingga hidupnya akan damai,tentram dan bahagia.
Memenjarakan hawa napsu berarti membatasi  ruang gerak energi keinginan untuk liar. Ajaran “Catur Purusa Artha” tidak mengharamkan manusia memiliki hawa napsu,keinginan atau “Kama”,namun hendaknya semua itu mesti berlandaskan “Dharma”. Dalam terali penjara “dharma”,sesungguhnya napsu atau keinginan itu sedang dibimbing dan dituntun ke jalan pencerahan.  Hawa napsu yangtercerahkan di jalan dharma akan mendamaikan manusianya untuk mencapai jalan kebebasan(mokhsa).
Orang yang hawa napsunya terkendali(tercerahkan di jalan dharma) adalah sesungguhnya orang-orang penuh wiweka. Wiweka diperoleh lewat  ilmu pengetahuan yang agung(jnana) dan kebijaksanaan. Ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan didapat dari proses belajar yang tekun dan terus menerus.
Ida Sang Hyang Aji Saraswati adalah pemilik tunggal ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan itu. Karenanya,tidak ada alasan bagi umat sedharma,pada hari suci Saraswati ini untuk merenung ,sujud terpekur di kakiNya. Lewat semangat Saraswati,umat hendaknya selalu belajar,melenyapkan kerak-kerak kebodohan. Kebodohan adalah sumber petaka kehancuran. Kebodohan tidak mampu mengendalikan hawa napsu. Napsu yang tak terkontrol  membawa maut dalam hidup ini. Kepandaian(guna widya) dan kebijaksanaan(winayaka) adalah senjata pamungkasnya. Untuk itu tidak ada alasan untuk menunda belajar menuntut ilmu.(Wjs).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar