“........ wenang kagungakna riambek kita sidadi wwang, apan parama dhurlaba kita sidadi janma manusa, yadyapi cinalyoni pitwi.......”(Sarasamuccaya). Artinya :...... besarkanlah jiwamu hidup sebagai manusia,karena amat sulit (sampai) hidup menjadi seorang manusia,meski cacat sekalipun .......
Kitab Udyoga Parwa menyatakan,bahwa diantara benda, yang hiduplah yang paling sempurna. Di antara benda hidup, manusialah yang paling sempurna. Dan di antara manusia ,yang berpengetahuanlah yang paling sempurna.
Dari dua kutipan di atas, betapa keberadaan manusia di jagat raya ini sangat penting dan sangat menentukan. Di mana disebutkan sangat sulit untuk bisa menjelma menjadi seorang manusia. Sebab lahir menjadi manusia itu melalui proses yang amat panjang dan rumit. Dan hanya makhluk yang bernama manusia dibekali kemampuan yang komplit oleh Ida Sang Hyang Widhi, berupa idep(kemampuan untuk berfikir),sabda(kemampuan untuk bicara) dan bayu(kemampuan untuk berbuat). Sedangkan tumbuh-tumbuhan hanya diberi bekal bayu, binatang diberikan bekal sabda dan bayu.
Lewat kelebihan bekal tadi(sabda,bayu dan idep);yaitu kemampuan untuk berbicara, berbuat dan berfikir,maka manusia mampu memimpin dan mengelola alam,binatang dan tumbuh-tumbuhan,dan juga hidupnya sendiri. Agar tidak terjadi kekacauan akibat kelebihan yang dimiliki manusia,maka oleh Yang Kuasa dibuatlah rambu-rambu,yang dikenal dengan istilah Tri Kaya Parisudha,artinya tiga perbuatan yang mesti selalu disucikan,selalu berada dalam koridor dharma(kebenaran).
Berfikir yang benar(manacika parisudha),berbicara yang benar(wacika parisudha) dan berperilaku yang benar(kayika parisudha) adalah kunci dalam membina keharmonisan hubungan dalam hidup dan kehidupan ini,baik terhadap alam lingkungan,terhadap sesama manusia,maupun kehadapan Sang Pencipta,Ida Sang Hyang Widhi ,sebagai mana tertuang dalam konsep Tri Hita Karana(tiga penyebab kebahagiaan).
Namun dalam kenyataan kehidupan sekarang ini,lebih-lebih di jaman kali ini, sungguh amat susah ditemui suatu tatanan hidup yang harmoni. Baik dengan alam lingkungan,dengan sesamanya,maupun rasa bhakti kehadapan Tuhannya sudah sangat luntur. Hal ini karena orientasi hidup manusia di jaman kali sudah sangat berubah,yakni berorientasi kepada kebendaan(materi).
Norma-norma,rambu-rambu sering kali dilanggar demi sebuah materi(uang) untuk memenuhi keinginannya. Artha dan kama yang didapat tidak berdasarkan dharma. Manusia di jaman kali selalu mengejar artha dan kama. Seolah artha itu merupakan sebuah tujuan. Tidak perduli apakan artha itu diperoleh lewat jalan dharma atau adhrama. Dan mereka yang memiliki artha yang banyak ,bertumpuk adalah mereka yang terhormat di jaman kali ini. Semua orang akan hormat,tunduk,patuh pada mereka yang memiliki artha. Seperti tersurat dalam sastra suci : “sang sura,panditha,widagda pada mangayap ri sang mahadhana”. Artinya di jaman kali ini para ksatriya,sang panditha dan ilmuwan semuanya menjadi pelayan orang kaya.
Agama Hindhu tidak melarang umatnya kaya. Malah agama menganjurkan agar semua umatnya kaya. Namun uang atau kekayaan yang diperoleh hendaknya selalu berlandaskan dharma. Kekayaan yang diperoleh lewat jalan dharma akan jauh lebih berarti dan bermakna. Hendaknya, di samping diperoleh lewat jalan dharma,kekayaan itu juga diperuntukkan mengabdi pada dharma. Ini yang membuat tatanan di dunia ini menjadi harmonis,seimbang,damai ,yang pada akhirnya akan mampu melahirkan masyarakat yang bahagia bersama.
Empat Tipe Manusia
Berdasarkan karakter,sifat dan prilakunya,manusia dibedakan dalam 4 macam tipe; yaitu disebut Manawa Madhawa(manusia dewa), Manawa Manawa(manusia manusiawi), Manawa Pasuwu(manusia binatang), dan Manawa Dhanawa(manusia raksasa).
Manusia dewa,dengan karakter ilahi yang dimilikinya,seyogianya merupakan tujuan setiap umat,maka muncul istilah Daiwi Sampat, yaitu manusia dengan sifat-sifat kedewataan. Ini hal yang ideal,namun seyogyanya semua umat berorientasi ke arah manusia dewa(manawa madhawa). Manusia dengan sifat kedewataan,akan menyebabkan tegaknya dharma di atas dunia ini. Dharma yang tegak,dan berlaku sebagaimana hukumnya menyebabkan kehidupan berjalan harmonis,karena yang salah akan mendapatkan hukuman dan yang benar akar terlindungi. Sri Kresna adalah sosok manusia dewa yang menjelma ke dunia sebagai awatara untuk menegakkan dharma dan mengharmoniskan kehidupan di dunia ini. Manusia model ini merupakan idaman semua umat.
Manusia yang manusiawi(manawa manawa) adalah manusia yang diharapkan kita semua. Sifat-sifat manusiawi ini mampu menghargai orang lain. Mampu melihat kelebihan dan kekurangan diri sendiri,mampu merasakan penderitaan orang lain. Dan mau menolong dan berkorban untuk orang lain. Manusia yang manusiawi tidak rakus akan segalanya,termasuk harta,wanita,jabatan. Ia perlu semua itu sesuai kemampuannya. Ia selalu berjalan di jalan aturan. Namun sebagai manusia ,ia tidak lepas dari khilaf,kesalahan dan kekurangan. Ini adalah hal yang manusiawi. Manusia model ini seyogianya memimpin manusia yang lainnya,asal terus mau belajar dan selalu mengoreksi kekurangan-kekurangannya.
Manusia binatang(manawa pasuwu),adalah manusia yang tidak tahu aturan. Cendrung rakus dan menghalalkan segala cara. Ia tidak punya rasa malu. Yang terpenting adalah keinginannya tercapai. Persetan dengan yang lain,yang penting ia merasa puas dan senang. Manusia jenis ini cendrung merusak tatanan. Dan sangat berbahaya apabila manusia model ini menjadi pemimpin. Rakyat akan menjadi kacau dibuatnya.
Manusia raksasa(manawa dhanawa) adalah sosok manusia yang paling tidak disukai. Ia tidak mau tahu aturan. Yang terpenting adalah keinginannya terpenuhi. Yang lain tidak dianggap. Dan rakusnya minta ampun. Manusia raksasa bukan hanya memakan yang biasa dimakannya. Tetapi ,bila perlu dia memakan segalanya, asal diperlukan. Tidak perduli ,teman dimakan, sawah-sawah,hutan,laut,sungai,beton,proyek-proyek semua dimakan. Dia menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Kalau harus membunuh teman demi keinginannya,hal itu mereka lakukan. Tidak pernah merasa puas akan kekayaannya. Selalu dan selalu merasa kekurangan. Korupsi,manipulasi,kolusi tidak menjadi masalah buat memuluskan keinginannya. Semua rintangan harus dihancurkan dengan cara apapun. Rasa malu sudah sirna pada manusia tipe raksasa.
Manusia tipe inilah yang amat sangat merusak tatanan. Yang menyengsarakan manusia-manusia lainnya. Manusia tipe ini mestinya jangan diberi kesempatan memimpin. Mereka mesti dipenjarakan,atau bila perlu dimusnahkan. Jangan diberi ruang dan kesempatan,karena hanya akan menghancurkan dunia.
Oleh karena itu mari kita sadar,jagra bersama. Kita perangi manusia binatang dan manusia raksasa itu dengan selalu mengisi diri dengan guna widya(ilmu pendidikan sekala) dan tattwa adyatmika(ilmu pendidikan niskala),selalu berjalan pada jalanNya dan selalu menjauhi larangan-laranganNya untuk menuju manusia dewa(Manawa Madhawa).(Wjs).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar