Selasa, 29 Maret 2011

Nyepi : Pendakian Spiritual Menuju “Sunya”

“ Ambek sang wiku siddha tan pahingan tamutuga ri kamurtining taya/tang linggar humeneng licin mamepekin bhuwana sehananing jagat raya/norang lor kiduling kidul telas hane sira juga pamekas nirarsraya/kewat kewala sunya nirbana lengong luput  inangen-angen winarna ya//.(kakawin Dharma Sunya : Dang Hyang Nirartha)”.
Atinya : bathin seorang maha pandita yang telah menyusup dalam alam taya(hening),tiada gerak,diam,halus dan memenuhi seluruh jagat semesta,seluruh tribuana,tiada utara,tiada selatan,semuanya telah menyatu dalam dirinya,itulah hakekat nirarsraya,langgeng dalam keheningan yang indah,yang sukar dinyatakan dalam kata-kata.
Bagi seorang “kawi wiku”  pembahasan objek “sunya” amat gemar diungkap dalam karya-karya sastranya. Seperti  Kakawin Dharma Sunya,karya sastra Dang Hyang Nirartha di atas. Kenapa?.  Jagad “sunya” bagi seorang “kawi wiku” atau seorang “wiku siddha” atau pandita  “putus” adalah pelabuhan yang menjadi tujuan akhirnya setiap pendakian spiritualnya.
Pada  tataran “sunya” tiada lagi kegamangan dan kebingungan ada di sana. Yang muncul hanyalah vibrasi ketenangan(heneng),kejernihan atau kesucian(hening), keindahan yang universal. Kondisi ini akan memunculkan kesadaran yang “sujati”, yakni kesadaran  yang keluar dari kesadaran yang sesungguhnya. Pada tingkatan “sunya”,sebagaimana kutipan kakawin di atas,sudah tidak ada lagi perbedaan,semuanya terlihat sama, semuanya terasa indah. Dalam ruang seperti ini,yang ada hanya satu – kasih sayang.
Kasih sayang yang terlahir dari rahim kesadaran,bahwa semuanya , jagad semesta alam beserta seluruh isinya berasal dari sumber yang satu,yaitu TuhanYang Maha Asal(Ida Sang Hyang Widi Wasa). Sehingga  patut menjadi bahan renungan kita semua, wejangan Raja Yudistira,dalam kitab “Santhi Parwa” :  ketika orang sudah bisa memandang makhluk yang tidak terhitung jumlahnya,serta berbeda-beda itu,semua sebagai satu kesatuan,yang walaupun berbeda tetapi semuanya merupakan manifestasi dari Zat yang sama,maka dikatakan bahwa orang itu telah mendapat kesadaran Brahman.
Pada alam “sunya”, kejernihan pikiran akan tumbuh. Kejernihan akan mampu memandang semua persoalan  pada porsi yang sebenarnya.  Sebagaimana kutipan Kakawin “Arjuna Wiwaha”  maha karya seorang maha kawi, Mpu Kanwa : “ Sasi wimba haneng gatha mesi banyu/ndan asing suci nirmala mesi wulan/iwa mangkana rakwa kiteng kadadin/ring sang angambeki yoga kiteng sakala//. Artinya : bayangan bulan terlihat dalam tempayan berisi air, setiap yang(berisi air yang) suci hening berisi bulan,demikianlah Engkau,Tuhan,berada dalam setiap makhluk, pada orang yang melakukan yoga Engkau menampakkan diri.
Jadi sangat jelas dari bait kakawin di atas disiratkan,bahwa pada kejernihan fikiran kita akan mampu melihat Tuhan. Dan kejernihan fikiran itu dapat dicapai melalui jalan Yoga. Demikianlah seorang pendaki spiritual sejati selalu rindu akan puncak keheningan. Ketika berada pada puncak keheningan atau “sunya”,betapa sepi itu terasa indah,yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Nyepi
Hari Raya Nyepi,dimaknai sebagai saat yang tepat memulai pendakian menuju puncak keheningan itu. Di samping sebagai awal tahun baru Saka, Nyepi  diaktualisasikan umat dalam 4 langkah kegiatan spiritual menuju hening,yaitu: “amati geni, amati karya, amati lelungaan dan amati lelanguan”. Catur Brata Panyepian ini sesungguhnya mengantarkan umat ke puncak “sunya”.
Pada ruang “sunya” yang dicapai lewat  jalan Catur Brata Panyepian tadi, terjadi keseimbangan kosmis antara makrokosmos(jagat semesta alam) dengan  mikrokosmos(alam jagad kecil,tubuh manusia). Suasana seimbang ini memunculkan harmoni yang indah,dan  inilah saat tepat melakukan  tapa,brata,yoga dan samadhi.  Saat ini kita akan dapat melihat diri dan penyebab dari diri(Tuhan Yang Maha Asal) sebagaimana kutipan kakawin Arjuna Wiwaha di atas.
Momentum Nyepi,sebagai awal memulai pendakian spiritual,diharapkan semuanya akan sampai pada puncak keheningan. Ketika semua pada posisi hening,heneng,maka tidak ada lagi perbedaan. Semuanya terlihat dan terasa sama dan indah. Susana ini akan melahirkan santhi,santha dan jagadhita(damai,tenang dan bahagia) pada hari-hari berikutnya. Suasana ini dirindukan oleh semua umat. Dalam kondisi tenang,damai dan bahagia,umat bisa berkarma(berkarya) secara maksimal untuk mencari artha dan kama yang dilandasi dharma menuju kelepasan(moksha).
Mari kita merenung sejenak, bahwa Nyepi itu sesungguhnya bukan sekedar hari raya,yang sekedar dirayakan dengankemeriahan yang  bersifat kulit luar. Namun jauh di dalam sana, Nyepi sesungguhnya adalah sebuah renungan,repleksi,perjalanan ke dalam dan sebuah pendakian spiritual menuju puncak “kasunyatan”.
Nyepi juga mengingatkan umat untuk mulat sarira,sadar(jagra),bahwa kita dengan yang lainnya,dan kita dengan semesta alam beserta isinya bersumber dari satu sumber, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Wasudewa Kutum Bhakam”,demikian tersurat dalam kitab suci. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk saling bermusuhan,saling merusak diantara kita,diantara kita dengan alam dan diantara kita dengan Tuhan yang maha penyebab. Konsep ini tertuang indah dalam konsep “Tri Hita Karana”(tiga penyebab kebahagian). Dan Hari Raya Nyepi menyentak ingatan dan kesadaran kita semua,untuk memulai pendakian ini menuju ke arah itu semua.(Wjs).   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar